===—…. Persempit Kesenjangan ! ….—=== DIARY POLITIK

Foto:Derita Rakyat-Cak Ripin Kartun

Persempit Kesenjangan !

Suka atau pun tidak, pembangunan cenderung akan melahirkan korban. Di dunia ini, tidak ada satu pun negara yang mampu melawan nya. Pembangunan yang diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan, dalam praktek nya seringkali sukar untuk diwujudkan. Makna kesejahteraan terkadang lebih mengedepan menjadi sebuah wacana. Semua bangsa di muka bumi tampak berlomba guna menggapai nya. Semua “penguasa” tidak henti-henti nya berjuang untuk meraih nya. Kesejahteraan Rakyat muncul menjadi ikon yang terkadang menggumpal menjadi titik puncak idealisme. Hal ini wajar terjadi, karena semua warga dunia meyakini benar bahwa pada suasana sejahtera itulah seluruh masalah lahir batin manusia akan dapat terselesaikan.

Indonesia sebagai negeri yang telah 64 tahun mengenyam kemerdekaan, rupanya tidak terlepas dari semangat yang demikian. Bukan saja amanat untuk memajukan kesejahteraan umum memang sudah terpatrikan dalam tujuan negara, namun jika kita ikuti perkembangan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, maka mereka pun tampak serempak ingin mewujudkan “aura kesejahteraan” dalam kehidupan warga negeri nya. Perjalanan panjang pembangunan yang kita lakukan, memang memberi sinyal ke arah pencapaian maksud tersebut. Sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga ke Orde Reformasi, para pengambil kebijakan di negara kita, tidak pernah sedikit pun melupakan kata “sejahtera dan makmur” dalam rumusan-rumusan strategi pembangunan yang ditempuh nya. Dalam jaman Orde Lama kita mendengar ada semangat untuk memakmurkan rakyat. Dalam Orde Baru kita mengenal adanya Trologi Pembangunan (Pertumbuhan, Pemerataan dan Stabilitas) serta di masa reformasi pun kita mengetahui ada yang disebut dengan “tiga strategy” utama (pro growth, pro employ dan pro poor), dimana dalam konteks sekarang menggumpal menjadi “kesejahteraan, keadilan dan demokrasi”.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan jaman, rupa nya harapan untuk menggapai kehidupan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera, tidaklah segampang kita membolak-balik telapak tangan. Suasana hidup sejahtera, seperti nya masih sulit untuk diraih. Kata sejahtera, masih mengemuka menjadi sebuah wacana. Sekali pun mulai Kepala Negara hingga Kepala Desa, tampak begitu getol menyuarakan kata sejahtera, ternyata di berbagai bidang kehidupan, kita masih menyaksikan adanya kondisi masyarakat yang masih memprihatinkan. Banyak diantara warga bangsa yang tetap terlilit kemiskinan. Banyak juga yang terjebak ketidak-adilan. Bahkan mereka yang layak disebut “kaum marginal” pun merupakan fenomena yang masih harus kita hadapi dan kita carikan solusi nya. Bahkan yang nama nya “kesenjangan sosial” dan “kesenjangan ekonomi” acapkali menjadi salah satu dampak pembangunan yang tidak mungkin dipungkiri keberadaan nya.

Kesenjangan, baik sosial atau ekonomi, memang sudah cukup lama tercipta di negara kita. Jurang yang kian menganga antara mereka yang diuntungkan dari ada nya proses pembangunan dengan yang dirugikan, bukanlah sebuah aib yang pantas ditutup-tutupi. Kita berkewajiban untuk membahas nya, sekaligus juga mencari solusi cerdas nya. Di satu sisi para “penikmat” pembangunan terlihat hidup bergelimpangan kemewahan, tapi di sisi yang lain, mereka yang pantas disebut “korban’ pembangunan terlihat hidup sangat memprihatinkan. Kemauan politik Pemerintah yang berkehendak memunculkan kesejahteraan, sudah waktu nya diikuti dengan tindakan politik yang mendukung. Mulai lah dengan perilaku yang “berpihak” kepada nasib dan kehidupan rakyat banyak. Buktikanlah bahwa diantara sesama anak bangsa, kita hidup bersaudara. Bukankah “spirit brotherhood” merupakan amanat yang harus diwujudkan ? Bukanlah para pendiri republik telah menitipkan agar kita memelihara budaya gotong royong ? Dan jangan lupa tunjukanlah bahwa sebagai ‘keluarga besar” bangsa Indonesia, kita memiliki “rasa cinta” diantara sesama warga negara. Mereka yang sudah hidup sejahtera, perlu menolong rekan sebangsa nya yang masih belum hidup layak. Mereka yang telah mampu merasakan kemajuan teknologi canggih, perlu mengajari mereka yang tampak masih menggapai teknologi paling sederhana. Mereka yang telah mampu menikmati indah nya pembangunan, tentu perlu menularkan nya kepada yang masih belum mampu merasakan nya. Prinsip “bersama dalam kemakmuran dan makmur dalam kebersamaan” itulah yang mutlak kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana hidup senjang, sudah waktu nya kita rubah-arahkan ke susana yang lebih adil. Kita paham, untuk menyelesaikan berbagai kesenjangan dalam kehidupan, tidaklah sama dengan legenda “Sangkuriang”. Hari ini dicanangkan, maka besok sudah ada hasil nya. Tentu tidak demikian proses nya. Banyak hal yang harus dilakukan. Mulai dari yang berkaitan dengan sistem nilai dan tata laku yang harus dirumuskan secara cerdas, hingga ke soal penataan kelembagaan yang menopang nya. Andaikan kita mau dan mulai untuk memikirkan sekaligus melahirkan solusi cerdas nya, maka soal kesenjangan bukanlah suatu hal yang perlu ditakutkan, namun kondisi yang demikian, sudah seharusnya menjadi pemicu bagi terjelma nya masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Rasa-rasa nya rakyat butuh hal yang demikian, ketimbang diminta untuk menyaksikan “atraksi politik” yang seringkali tidak menyentuh apa yang menjadi dambaan dan aspirasi mereka, termasuk ‘jalan-jalan ala presiden SBY’. Mari kita persempit kesenjangan, agar pesan Pembukaan UUD 1945 dapat segera kita wujudkan.

Salam,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply

Back to Top